Konten yang dipublikasikan korporasi memang harus beradaptasi dengan perkembangan yang ada di sistem artificial intelligence (AI) saat ini. Seringkali, korporasi harus berpikir keras agar kontennya dapat sampai ke sasarannya di tengah banyaknya pemanfaatan AI.

Banyak brand merasa harus membuat konten baru untuk mengikuti perkembangan AI. Padahal, dalam banyak kasus, konten yang sudah ada sebenarnya masih relevan. Yang jadi masalah bukan pada kontennya, tetapi pada cara konten tersebut disusun dan dipahami.

Konten Search Engine Optimization (SEO) tradisional dibuat untuk mesin pencari. Sementara itu, sistem AI bekerja dengan cara yang berbeda. Sistem AI tidak hanya mencari kecocokan kata, tetapi mencoba memahami struktur, konteks, dan kejelasan jawaban.

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memulai dari jawaban, bukan pembukaan. Sebagaimana disampaikan Avonetiq, banyak konten SEO dimulai dengan pembukaan panjang sebelum masuk ke inti.

Untuk AI, pola ini kurang efektif. Sistem cenderung mengambil bagian yang langsung menjawab pertanyaan. Oleh karena itu, salah satu perubahan paling sederhana adalah memindahkan jawaban utama ke bagian awal. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang lebih mendalam.

Hal kedua yang mesti diperhatikan adalah perihal konten yang baik untuk manusia belum tentu mudah dipahami oleh sistem. Struktur yang jelas membantu AI mengenali bagian mana yang merupakan jawaban, penjelasan, atau tambahan informasi. Penggunaan heading yang konsisten, paragraf yang tidak terlalu panjang, dan alur yang runtut akan meningkatkan keterbacaan.

Perubahan ini sering kali tidak membutuhkan penulisan ulang, cukup dengan merapikan struktur yang sudah ada. Makanya, ubah struktur menjadi lebih terbaca.

Hal ketiga, fokus pada satu pertanyaan utama. Konten SEO seringkali mencoba menjangkau banyak keyword sekaligus. Pada AI, pendekatan ini justru bisa melemahkan fokus. Konten yang lebih efektif adalah yang menjawab satu pertanyaan utama dengan jelas, lalu memperluas pembahasan secara relevan. Semakin jelas fokusnya, semakin mudah bagi AI untuk memahami konteks.

Perihal keempat adalah penambahkan konteks yang lebih spesifik. AI tidak hanya mencari jawaban yang benar, tetapi juga yang relevan dengan konteks. Konten yang terlalu umum akan kalah dengan konten yang memberikan konteks spesifik. Ini bisa berupa contoh kasus, situasi nyata, atau penjelasan yang lebih terarah. Dengan konteks yang jelas, peluang konten untuk dipilih sebagai referensi akan meningkat.

Kelima, perkuat kredibilitas dengan referensi. Konten tanpa dasar yang jelas akan sulit dipercaya. Menambahkan referensi, data pendukung, atau sumber yang relevan membantu meningkatkan kredibilitas. Ini tidak hanya penting untuk pembaca, tetapi juga menjadi sinyal kepercayaan bagi sistem AI. AI akan memprioritaskan konten yang dapat diverifikasi.

Keenam, pastikan konsistensi dengan konten lain. Perlu diingat, satu artikel tidak berdiri sendiri. AI melihat keseluruhan ekosistem konten dalam sebuah website. Jika satu artikel membahas topik tertentu, tetapi artikel lain tidak konsisten, maka sinyal otoritas menjadi lemah. Menyelaraskan konten lama dengan arah yang sama akan membantu membangun pemahaman yang lebih kuat.

Ketujuh, ubah tujuan dari traffic ke kepercayaan. Konten SEO tradisional sering kali dibuat untuk menarik sebanyak mungkin pengunjung. Namun di era AI, yang lebih penting adalah apakah konten tersebut cukup dipercaya untuk dijadikan jawaban.