Perguruan tinggi sebagai lembaga yang melahirkan banyak intelektual harus memastikan reputasinya berdiri kokoh. Jangan sampai perguruan tinggi mengalami krisis reputasi.

Dalam sebuah workshop di Universitas Brawijaya pada awal Juli 2026 lalu, Pakar Komunikasi Strategis, Fardila Astari, M.Si., CIQnR, CIQaR, CICAR mengidentifikasi sejumlah isu yang paling sering berkembang menjadi krisis reputasi di lingkungan perguruan tinggi.

Berdasarkan hasil pemantauan media, isu tersebut meliputi persoalan etika, moral, dan hukum seperti kekerasan seksual dan perundungan; tata kelola kelembagaan dan kebijakan termasuk polemik uang kuliah tunggal (UKT); integritas akademik seperti plagiarisme; hingga persoalan operasional dan keamanan kampus.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut dapat berkembang menjadi krisis reputasi apabila tidak diantisipasi melalui komunikasi yang cepat, transparan, dan berbasis fakta.

Ia mengajak perguruan tinggi mengubah paradigma dalam memandang fungsi komunikasi. Ia menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar aktivitas publikasi atau pendukung operasional organisasi, melainkan investasi strategis yang berkontribusi langsung terhadap pencapaian tujuan institusi.

"Komunikasi bukan call center. Komunikasi juga bukan sekadar membuat rilis atau unggahan media sosial. Setiap materi komunikasi harus memiliki tujuan yang jelas, apakah untuk membangun reputasi, memperkuat branding, atau memitigasi krisis," jelasnya.

Dalam konteks perguruan tinggi, reputasi dibangun melalui empat fondasi utama, yakni kepercayaan (trust), kredibilitas, kemampuan institusi untuk diandalkan (reliability), dan tanggung jawab sosial. Reputasi, lanjutnya, tidak cukup diukur dari banyaknya pemberitaan maupun tingginya interaksi di media sosial, tetapi dari sejauh mana komunikasi mampu membangun kepercayaan, membuka peluang kolaborasi, dan memberikan nilai tambah bagi institusi.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga website institusi sebagai pusat informasi resmi. Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan media sosial, website tetap menjadi wajah organisasi sekaligus sumber informasi utama yang mencerminkan tata kelola komunikasi sebuah perguruan tinggi.